Ehhmmmm…..Mungkin ini menjadi tulisan yang beda. Pertama, saya akan pake kata ganti “gue & lu” biar enak aja di gw (ya iya kan ini blog gw ya). Kedua, bahasan di sini isinya cuman kritik atau sudut pandang dari penulis blog kecil ini. Jadi, mau skip juga nggak masalah (Lagian blog kecil ngapain perlu kek klarif juga yak).
Btw, sesuai judul yang
bakal diomongin bukan cuman kekalahan timnas semalem, tapi juga rentetan
perjalanan timnas buat tembus pildun pertama kalinya secara singkat dengan penilaian
sok-sok pundit channel olahraga di Youtube itu. “Ttttttapi’kan, Indonesia udah
pernah masuk pildun, bang sebelum merdeka itu.” Ya itu namanya masih Hindia
Belanda, kocak. Ok, langsung aja dah biar nggak kelamaan.
Pandangan Pundit Alakadarnya
Gw mau langsung bahas
dulu pas Kualifikasi Ronde 3 duls (kalau dari awal juga terlalu kejauhan). Indonesia
gabung di Grup C bareng Jepang, Arab Saudi, Australia, Bahrain, dan Tiongkok
(China). Grup neraka seperti yang bisa dilihat, kek Jepang udah pasti sebelum
maen aja lolos langsung. Australia sama Arab Saudi juga berat soalnya langganan
masuk pildun beberapa gelaran terakhir. Bahrain udah pasti bisa ngakalin dengan
drama sampo mereka sok-sok jatuh padahal biasa aja. Badan doang keker gampang
letoy. Tiongkok masih ada chance buat menang lah (kalau bisa bantai
harusnya).
Dua laga timnas okelah
masih bisa dapet poin meski 1 point doang. Imbang di kandang Arab Saudi (1-1), imbang
lawan Australia di GBK (0-0), imbang yang seharusnya menang di kandang Bahrain
(2-2). Asli kalau kalian ngeliat pasti greget sama wasitnya yang namanya udah males
gw sebut dan ngapain juga gw inget itu. Walaupun, seperti biasa Indonesia
selalu gagal fokus pas udah unggul apalagi masuk menit-menit krusial.
Lanjut ke puncak komedi,
eh pertandingan keempat maksudnya. Timnas Indonesia secara mengejutkan takluk
di kendang China dengan skor 2-1. “Kan, wajar bang. Bola tuh bundar. Mungkin suporter
China ngasih dukungan solid sama presur buat pemain Indonesia biar tertekan
gitu. Keren, nggak analisa gw, bang.” Eh, biasa aja sih. Cuman banyak pertanyaan
gw yang udah diwakilin juga sama publik, khususnya di pemilihan pemain inti.
Tapi bakal gw skip daripada disuruh ngelatih.
Selanjutnya, dibantai
Jepang (0-4) di kendang kita sendiri dan udah nggak kaget sih. Laga ke-enam
ngelawan Arab Saudi. Mas-mas bernomor 7, Marselino Ferdinan berhasil menjadi
pahlawan dengan 2 gol ke gawang Arab Saudi yang bawa Timnas menang pertama kali
di grup ini dengan skor 2-0. Ini menjadi asa buat negara kita buat maju ke piala
dunia.
Risiko
Maksa yang Diambil
6 pertandingan 6 poin
masih bisa lah buat berjuang masuk otomatis pildun kalau finis posisi 1-2, eh
nomor 1 nggak mungkin ding, nomor 2 lah. Tiba-tiba, instansi pemerintahan Bernama
Pe-eS-eS-I langsung memecat STY di tengah kompetisi masih berlanjut. Di sini
langsung muncul gerakan pro-kontra kek-kek zaman pilpres. Ada yang setuju
karena STY gagal memaksimalkan poin di pertandingan-pertandingan sebelumnya.
Ada juga yang tidak setuju soalnya udah sejauh ini dan banyak pengorbanan STY
untuk Timnas selama 5 tahun seperti tidak ada harganya. Kalau gw mah netral aja
sih. Soalnya lebih make sense mecat pas gagal pildun setelah apa yang
udah dikasih ke beliau ketimbang di-cut tengah jalan malah bikin
harmonisasi tim jadi tanda tanya.
PSSI langsung saja mencari
pengganti STY. Dari beberapa nama yang dikaitkan, akhirnya jatuh ke satu nama,
Legenda Barcelona dan Timnas Belanda, Patrick Kluivert. Walaupun, masih
pro-kontra juga karena karier kepelatihannya ya…YTTA. Tapi, masyarakat diminta
percaya penuh dengan pilihan federasi agar bisa fokus mendukung ke tim nasional
kesayangan mereka. Gong-nya adalah STY dikasih target lolos pildun, sedangkan Patrick
bukan Star ini kagak. Emang aneh tapi ya….bodo amat sih.
B Aja Sih
Pertandingan dengan
pelatih baru harus berakhir tragis setelah dibantai 5-1 di kendang Australia. Patrick
Kluivert mempertaruhkan segala risiko menggunakan strategi Total Football
ala Belanda, padahal pemain masih belum terbiasa karena masih terbawa strategi
STY yang selalu bertahan dan mengandalkan counter attack. Oke lah karena
masih baru’kan. Kalau kata anak teknik, mesinnya belum panas.
Laga selanjutnya
menjadi pembayaran utang yang lunas sampe ke bunga-bunganya. Dua laga melawan
Bahrain & China masing-masing dengan skor tipis 1-0. Kalau pandangan gw sih
harusnya bisa lebih atau bantai sekalian karena peluangnya banyak banget, tapi
ya selalu nggak bisa dimanfaatin dengan baik. Tapi, oke lah. Bersyukur yang penting
menang’kan.
Laga pamungkas melawan Sang
Raja Terakhir, Jepang harus dibantai habis 6-0 di kandang Jepang sendiri. Sayang
banget harus kebantai walau wajar, tapi ya…..gimana ya? Secara laga kalau dihitung
dari pelatih baru kerja, permainan dan hasilnya kek sub judul… ya, benar. Sebagai
penonton nggak pinter banget soal bola, tapi hobi nonton bola ini, ngeliat
permainan timnas kek gitu-gitu aja. Nggak ada sesuatu yang wah, kecuali
Total Football maksa itu. Masa cuman beda nationality dan culture
aja sih yang jadi tolak ukur pengganti STY. Jadi itulah, penjelasan singkat gw
dari perjalanan timnas selama di round 3.
Lompat ke round
4 yang menjalankan pertandingan semalam, Indonesia vs Arab Saudi. Indonesia
harus kalah menyakitkan 2-3 atas Arab Saudi. 2 gol itu pun dikasih penalti.
Cuman emang lagi-lagi susunan pemain utama menjadi problem yang mungkin
bakal keterusan sampe 2029. Lini tengah menjadi faktor rapuhnya pertahanan timnas
Garuda. Untungnya ada Marteen Paes hanya kebobolan 3, kalau enggak bisa
dibantai juga paling.
Berharap Boleh Tapi Realistis
Hasil semalam membuat
peluang Indonesia ada tapi tipis keknya. Masih ada kesempatan menang lawan Irak
dan berharap Irak ngalahin Arab Saudi. Entar itungannya nunggu orang lain aja,
males gw ngitungnya. Sulit banget sih. Kalau 3 tim ini raih 3 poin semua,
akumulasi poin pasti berat sih.
Timnas kita harus bisa move
on dan bangkit agar bisa berjuang lagi ngelawan Irak. Patrick Kluivert juga
harus ngasih strategi yang berbeda lagi. Bukan berisiko, tapi sesederhana
penempatan pemain inti dan pergantian pemain sesuai dengan kebutuhan sesuai
kondisi pertandingan.
Itu tadi kumpulan omongan
yang biasa dan tidak berisi (keknya) tentang Timnas Goes To World Cup. Doa
terbaik semoga bisa memaksimalkan pertandingan yang ada. Kalau lolos
Alhamdulillah kalau enggak Ya Sudah Lah.
Sekian
“Kasih juga opini lu semua yang lebih berbobot dari tulisan di atas atau sekadar nyuruh penulis blog ini ngelatih.”
Selamat berjuang untuk timnas, minimal bisa lolos piala dunia
BalasHapusSayangnya udah pupus, bang. Emang sulit kalau menang min. 2 gol. Tapi NT lah terima kasih udah berjuang. Sampai jumpa di tahun 2030
Hapus