Kamis, 09 Oktober 2025

Siap-Siap Nunggu Timnas ke Pildun Beberapa Tahun Lagi

Ehhmmmm…..Mungkin ini menjadi tulisan yang beda. Pertama, saya akan pake kata ganti “gue & lu” biar enak aja di gw (ya iya kan ini blog gw ya). Kedua, bahasan di sini isinya cuman kritik atau sudut pandang dari penulis blog kecil ini. Jadi, mau skip juga nggak masalah (Lagian blog kecil ngapain perlu kek klarif juga yak).

Btw, sesuai judul yang bakal diomongin bukan cuman kekalahan timnas semalem, tapi juga rentetan perjalanan timnas buat tembus pildun pertama kalinya secara singkat dengan penilaian sok-sok pundit channel olahraga di Youtube itu. “Ttttttapi’kan, Indonesia udah pernah masuk pildun, bang sebelum merdeka itu.” Ya itu namanya masih Hindia Belanda, kocak. Ok, langsung aja dah biar nggak kelamaan.

Pandangan Pundit Alakadarnya

Gw mau langsung bahas dulu pas Kualifikasi Ronde 3 duls (kalau dari awal juga terlalu kejauhan). Indonesia gabung di Grup C bareng Jepang, Arab Saudi, Australia, Bahrain, dan Tiongkok (China). Grup neraka seperti yang bisa dilihat, kek Jepang udah pasti sebelum maen aja lolos langsung. Australia sama Arab Saudi juga berat soalnya langganan masuk pildun beberapa gelaran terakhir. Bahrain udah pasti bisa ngakalin dengan drama sampo mereka sok-sok jatuh padahal biasa aja. Badan doang keker gampang letoy. Tiongkok masih ada chance buat menang lah (kalau bisa bantai harusnya).

Dua laga timnas okelah masih bisa dapet poin meski 1 point doang. Imbang di kandang Arab Saudi (1-1), imbang lawan Australia di GBK (0-0), imbang yang seharusnya menang di kandang Bahrain (2-2). Asli kalau kalian ngeliat pasti greget sama wasitnya yang namanya udah males gw sebut dan ngapain juga gw inget itu. Walaupun, seperti biasa Indonesia selalu gagal fokus pas udah unggul apalagi masuk menit-menit krusial.

Lanjut ke puncak komedi, eh pertandingan keempat maksudnya. Timnas Indonesia secara mengejutkan takluk di kendang China dengan skor 2-1. “Kan, wajar bang. Bola tuh bundar. Mungkin suporter China ngasih dukungan solid sama presur buat pemain Indonesia biar tertekan gitu. Keren, nggak analisa gw, bang.” Eh, biasa aja sih. Cuman banyak pertanyaan gw yang udah diwakilin juga sama publik, khususnya di pemilihan pemain inti. Tapi bakal gw skip daripada disuruh ngelatih.

Selanjutnya, dibantai Jepang (0-4) di kendang kita sendiri dan udah nggak kaget sih. Laga ke-enam ngelawan Arab Saudi. Mas-mas bernomor 7, Marselino Ferdinan berhasil menjadi pahlawan dengan 2 gol ke gawang Arab Saudi yang bawa Timnas menang pertama kali di grup ini dengan skor 2-0. Ini menjadi asa buat negara kita buat maju ke piala dunia.

Risiko Maksa yang Diambil

6 pertandingan 6 poin masih bisa lah buat berjuang masuk otomatis pildun kalau finis posisi 1-2, eh nomor 1 nggak mungkin ding, nomor 2 lah. Tiba-tiba, instansi pemerintahan Bernama Pe-eS-eS-I langsung memecat STY di tengah kompetisi masih berlanjut. Di sini langsung muncul gerakan pro-kontra kek-kek zaman pilpres. Ada yang setuju karena STY gagal memaksimalkan poin di pertandingan-pertandingan sebelumnya. Ada juga yang tidak setuju soalnya udah sejauh ini dan banyak pengorbanan STY untuk Timnas selama 5 tahun seperti tidak ada harganya. Kalau gw mah netral aja sih. Soalnya lebih make sense mecat pas gagal pildun setelah apa yang udah dikasih ke beliau ketimbang di-cut tengah jalan malah bikin harmonisasi tim jadi tanda tanya.

PSSI langsung saja mencari pengganti STY. Dari beberapa nama yang dikaitkan, akhirnya jatuh ke satu nama, Legenda Barcelona dan Timnas Belanda, Patrick Kluivert. Walaupun, masih pro-kontra juga karena karier kepelatihannya ya…YTTA. Tapi, masyarakat diminta percaya penuh dengan pilihan federasi agar bisa fokus mendukung ke tim nasional kesayangan mereka. Gong-nya adalah STY dikasih target lolos pildun, sedangkan Patrick bukan Star ini kagak. Emang aneh tapi ya….bodo amat sih.

B Aja Sih

Pertandingan dengan pelatih baru harus berakhir tragis setelah dibantai 5-1 di kendang Australia. Patrick Kluivert mempertaruhkan segala risiko menggunakan strategi Total Football ala Belanda, padahal pemain masih belum terbiasa karena masih terbawa strategi STY yang selalu bertahan dan mengandalkan counter attack. Oke lah karena masih baru’kan. Kalau kata anak teknik, mesinnya belum panas.

Laga selanjutnya menjadi pembayaran utang yang lunas sampe ke bunga-bunganya. Dua laga melawan Bahrain & China masing-masing dengan skor tipis 1-0. Kalau pandangan gw sih harusnya bisa lebih atau bantai sekalian karena peluangnya banyak banget, tapi ya selalu nggak bisa dimanfaatin dengan baik. Tapi, oke lah. Bersyukur yang penting menang’kan.

Laga pamungkas melawan Sang Raja Terakhir, Jepang harus dibantai habis 6-0 di kandang Jepang sendiri. Sayang banget harus kebantai walau wajar, tapi ya…..gimana ya? Secara laga kalau dihitung dari pelatih baru kerja, permainan dan hasilnya kek sub judul… ya, benar. Sebagai penonton nggak pinter banget soal bola, tapi hobi nonton bola ini, ngeliat permainan timnas kek gitu-gitu aja. Nggak ada sesuatu yang wah, kecuali Total Football maksa itu. Masa cuman beda nationality dan culture aja sih yang jadi tolak ukur pengganti STY. Jadi itulah, penjelasan singkat gw dari perjalanan timnas selama di round 3.

Lompat ke round 4 yang menjalankan pertandingan semalam, Indonesia vs Arab Saudi. Indonesia harus kalah menyakitkan 2-3 atas Arab Saudi. 2 gol itu pun dikasih penalti. Cuman emang lagi-lagi susunan pemain utama menjadi problem yang mungkin bakal keterusan sampe 2029. Lini tengah menjadi faktor rapuhnya pertahanan timnas Garuda. Untungnya ada Marteen Paes hanya kebobolan 3, kalau enggak bisa dibantai juga paling.

Berharap Boleh Tapi Realistis

Hasil semalam membuat peluang Indonesia ada tapi tipis keknya. Masih ada kesempatan menang lawan Irak dan berharap Irak ngalahin Arab Saudi. Entar itungannya nunggu orang lain aja, males gw ngitungnya. Sulit banget sih. Kalau 3 tim ini raih 3 poin semua, akumulasi poin pasti berat sih.

Timnas kita harus bisa move on dan bangkit agar bisa berjuang lagi ngelawan Irak. Patrick Kluivert juga harus ngasih strategi yang berbeda lagi. Bukan berisiko, tapi sesederhana penempatan pemain inti dan pergantian pemain sesuai dengan kebutuhan sesuai kondisi pertandingan.

Itu tadi kumpulan omongan yang biasa dan tidak berisi (keknya) tentang Timnas Goes To World Cup. Doa terbaik semoga bisa memaksimalkan pertandingan yang ada. Kalau lolos Alhamdulillah kalau enggak Ya Sudah Lah.

Sekian

“Kasih juga opini lu semua yang lebih berbobot dari tulisan di atas atau sekadar nyuruh penulis blog ini ngelatih.”

Share: